Oleh: Bahlina Mohd. Nur

Pangan memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi, produk yang dihasilkan dalam bidang pangan berkembang dengan pesat. Berbagai jenis produk makanan dan minuman dengan rasa dan gizi yang baik selalu diproduksi dengan tujuan menarik perhatian konsumen. Selain rasa dan nilai gizi, perlindungan terhadap kehalalan suatu produk harus diperhatikan meskipun mayoritas penduduk Aceh merupakan muslim. Disamping itu, Aceh merupakan salah satu destinasi wisata halal di dunia sehingga produk pangan yang dihasilkan  harus terjamin kehalalannya.

Berdasarkan pedoman dari al-qur’an dan hadis, setiap orang muslim yang memakan makanan tidak halal hukumnya adalah haram, sehingga konsumen harus selektif memilih makanan yang halal. Sistem jaminan halal tercantum didalam UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang merupakan aspek jaminan kehalalan suatu produk yang komprehensif mencakup dalam kebijakan-kbijakan tidak sekadar hanya kepastian kehalalan pangan dari bentuk makanan jadi saja. Kehalalan produk pangan ditentukan dari mulai bahan baku, proses pengolahan, pengudangan dan  distribusi, hingga produk sampai ke tangan konsumen. Namun, kesadaran konsumen mengenai pentingnya produk halal masih rendah, karena masih kurang pengetahuan mengenai kehalalan produk pangan. Jaminan kehalalan suatu produk dan proses didalamnya merupakan kunci utama dalam kriteria konsumsi halal yang berkesinambungan dan konsisten.

Sebagai provinsi satu-satunya di Indonesia yang telah menerapkan syariat islam, Aceh telah memiliki regulasi pangan yang mengatur tentang kehalalan suatu produk yang dimasukkan ke dalam Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH yang berisi tentang kebijakan bahwa Aceh merupakan wilayah yang diharuskan menggunakan produk-produk halal. Tetapi, masyarakat tidak terlalu mementingkan logo halal suatu produk, karena menganggap bahwa dengan tinggal di suatu daerah yang mayoritas muslim, sudah pasti makanan yang terjual halal. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi mengenai pentingnya halal dan bagaimana untuk mendapatkan sertifikat halal MUI agar produk tersebut sudah terjamin kehalalannya dan mendapatkan kepercayaan lebih dari konsumen.

Gb 1. Logo Halal MUI (Sumber, LPPOM MUI).

Sertifikasi halal pada produk pangan merupakan nilai tambah ekonomi dimana  konsumen akan merasa lebih tenang akan prosedur, bahan baku, dan pengolahan dari makanan itu sendiri, sehingga konsumen tidak ragu dan memutuskan untuk membeli produk tersebut. Dengan keberadaan label tersebut, pembeli yang membutuhkan kepastian mendapatkan level terbaik untuk keyakinannya. Hal ini juga termasuk ke dalam UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dimana konsumen berhak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi suatu bahan pangan (Syahmul, 2009).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here